Kamis, 31 Juli 2014

Terlupakan

Setahun yang lalu saya bareng posko dengan bidan yang sama, seorang bidan "junior"dan tadi malam mengingatkan agi pada kejadian yang sama dengan jumlah yang melahirkan berturut turut, tahun lalu bersamanya 6 orang terjadi persalinan dalam semalam dengan tenaga bidan seorang dibantu saya dan yang lain dalam tindakan tindakan yang sekiranya bisa kami lakukan. Malam tadipun sama halnya kita bahumembahu bersama mengatasi tiap kesulitan dan yanng palinng merepotkan adalah dengan syarat "administrasi BJS ", sebagian waktu termakan habis oleh administrasi, urus kartu, poto kopi ditengah malam mana ada? Belum lagi kelengkapan dari pihak pasen bila tidak lengkap disebutnya "Menghambat" terkadang petugas dituduh macam macam sebagai penghambat. Sitem yang masih manual BELUM TERPIKIRKAN oleh Pemangku kebijakan, bagaimana situasi sebenarnya dilapangan dengan tenaga yang serba kekurangan tapi harus sempurna melayani.

Itu terjadi baru satu kasus yang datang, semenjak hari ke2 Posko banyak masyarakat yang berkunjung untuk berobat , Mereka tak tahu kasus itu adalah emergensi atau bukan yang penting KAMI SELALU ADA 24 JAM untuk melayani, ketika KEBIJAKAN karena Sistemnya "ini bukan kasus emergensi" tertolak, lalu

Selasa, 29 Juli 2014

THR Rp.5.120,5

Ngotot saat diskusi perumusan uang posko Idul fitri sesama karyawan dan Pimpinan yang mau membagi rata uang psoko sejumlah Rp. 5.120 ( bukan dolar USD), Rame dan bersitegang. Itukah yang namanya keadilan ? Jauh apa yang dinamakan keadialan sementara kami tak sama dengan yang lain. Lha kalau begitu ga ikhlas ? gak juga seeh. Coba aja sejak 28 tahun masa silam baru ada uang Posko yang diperhatikan oleh pemerintah. Perlu kami syukuri meski jumlahnya segitu. Coba saja Rekan seprofesi dengan jumlah Jaga selang sehari di hari Posko : Pagi,libur,Malam,bebas malam,Siang dengan frekuasi seperti itu selama Posko.

Jumlah yang Posko tak seperti saat perhitungan , dengan jumlah Karyawan 56 orang dengan jatah Rp. 4 jt dibagi 14 hari ( H plus dan H min 7 ) kebagian rata rata ya segitu jumlahnya. Sedangkan yang Posko setiap hari hanyalah 5 orang dengan jumlah yang masih kurang. Jelas beda institusi kami dengan pelayanan 24 jam dan bukan cuma pelayanan melainkan sebagai pengelola kegiatan kemasyarakatan juga semestinya pihak Pemerintah daerah harus lebih siap memplanninng ketenagaan dengan pememetaan yang benar, bukan hanya sekedar penempatan Rasio kebutuhan tenaga perawat berdasarkan Permenkes No 340 Tahun

Sabtu, 26 Juli 2014

Kerja Bakti versus kekuasaan

Assalammu'alaikum wr. wb.
Aku adalah salah seorang karyawan, kerjaku disalah satu institusi dengan jam kerja yang mungkin kami berbeda dengan institusi yang lain 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan 30 hari dalam sebulan tanpa tunjangan jaga yang ironisnya tak diketahui oleh pemerintah daerah. Gaji kita ( menyebut kita karena profesi ) sama dengan pegawai lain yang nota bene sesuai pangkat dan golongan. Aku membahas ini karena saat pembinaan oleh seorang bapa angkat bahwa itu tidak ada biaya untuk uang jaga padahal institusiku selam aku kerja 28 tahun bahkan sebelumnya yang seperti itu tanpa tunjangan jaga tapi kami tak pernah mengeluh yang paling penting adalah memberikan pelayanan sebaik baiknya pada masyarakat. Lantas mengapa baru sekarng dibahas? Masalahnya adalah ketika ketidak adilan yang sudah dipojokan oleh masyarakat bahwa kami tidak profesional bahkan melalaikan tugas padahal kami sudah sedemikian rupa memberikan pelayanan dan semaksimal mungkin tanpa menuntut.

Rabu, 23 Juli 2014

Pengelolaan Organisasi Institusi

Assalammu'alaikum wr. wb.
Bila melihat masa lalu duapuluh delapan tahun kebelakang dengan rata rata tingkat pendidikan SMA bahkan SMP sederajat mempunyai kinerja yang sangat baik dan dapat melahirkan berbagai prestasi yang sangat baik. Aku masih ingat saat pertama kali pada tahun 1985 mulai masuk institusi, bahwa dengan lulusan SLA/sederajat saat it saat itu dipandang kedua tertinggi setelah lulusan Strata 1, masih ingat ucapan seorang pimpinan " Masa Kalah dengan yang lulusan SR dengan prestasi yang baik " Kata kata itu tertanam dan menjadikan diriku bangkit untukbisa berprestasi walau saat itu aku belum menjadi Aparat pemerintah ( Sukwan murni tanpa Gaji sepeserpun )

Saat itu aku ditugaskan terpencil ditengah desa tanpa llistrik dan air berada ditengah hutan bambu, tengok kanan kiri hanya barisan pohon bambu sedangkan dibelakang adalah makam yang sudah lama tak pernah dirawat. Di berikan tugas oleh pimpinan saat itu bertanggung jawab membina 1 wilayah dengan jumlah desa 6 buah dengan medan yang cukup lumayan jauh dan ojeg yang ada hanya beberapa kalopun mau pake ojeg biasanya 2 jam sekali itupun sudah terisi, sedangkan mobil dolak ( pengangkut barang ) biasanya cuma 1 jalur tidak bisa sampai ke peloosok karena minimnya fasilitas.