Assalammu'alaikum wr. wb.
Aku adalah salah seorang karyawan, kerjaku disalah satu institusi dengan jam kerja yang mungkin kami berbeda dengan institusi yang lain 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan 30 hari dalam sebulan tanpa tunjangan jaga yang ironisnya tak diketahui oleh pemerintah daerah. Gaji kita ( menyebut kita karena profesi ) sama dengan pegawai lain yang nota bene sesuai pangkat dan golongan. Aku membahas ini karena saat pembinaan oleh seorang bapa angkat bahwa itu tidak ada biaya untuk uang jaga padahal institusiku selam aku kerja 28 tahun bahkan sebelumnya yang seperti itu tanpa tunjangan jaga tapi kami tak pernah mengeluh yang paling penting adalah memberikan pelayanan sebaik baiknya pada masyarakat. Lantas mengapa baru sekarng dibahas? Masalahnya adalah ketika ketidak adilan yang sudah dipojokan oleh masyarakat bahwa kami tidak profesional bahkan melalaikan tugas padahal kami sudah sedemikian rupa memberikan pelayanan dan semaksimal mungkin tanpa menuntut.
Aku adalah salah seorang karyawan, kerjaku disalah satu institusi dengan jam kerja yang mungkin kami berbeda dengan institusi yang lain 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan 30 hari dalam sebulan tanpa tunjangan jaga yang ironisnya tak diketahui oleh pemerintah daerah. Gaji kita ( menyebut kita karena profesi ) sama dengan pegawai lain yang nota bene sesuai pangkat dan golongan. Aku membahas ini karena saat pembinaan oleh seorang bapa angkat bahwa itu tidak ada biaya untuk uang jaga padahal institusiku selam aku kerja 28 tahun bahkan sebelumnya yang seperti itu tanpa tunjangan jaga tapi kami tak pernah mengeluh yang paling penting adalah memberikan pelayanan sebaik baiknya pada masyarakat. Lantas mengapa baru sekarng dibahas? Masalahnya adalah ketika ketidak adilan yang sudah dipojokan oleh masyarakat bahwa kami tidak profesional bahkan melalaikan tugas padahal kami sudah sedemikian rupa memberikan pelayanan dan semaksimal mungkin tanpa menuntut.
Jam kerja kami sejak 28 tahun sampai sekarang adalah sebagai berikut :
1. Dinas pagi : 07.30 - 13.00
2. Dinas Siang : 07.30 - 19.00
3. Dinas Malam : 07.00 - 13.00 dan masuk lagi 19.00 - 07.30 , selanjutnya BM ( bebas malam, tapi tak ada libur kecuali hari minggu/ atau libur ) tapi apabila hari libur jaga, tetap tak bisa ambil libur karena disamping jaga, kami juga sebagian besar pengelola program kegiatan dan di beberapa unit pelayanan. Saat ada pemeriksaan dari tim BPK " disini, karywannya tak disiplin ada yang masuk agak siang, kalo melihat di tempat lain jam segini sudah diabsen " Pernyataan itu dibantah oleh seorang rekan seangkatan yang sama sama satu perjuangan, "Bapak, jangan disamakan dengan yang lain yang non perawatan, tenaga kami sudah banyak melebihi jam kerja, bahkan tak ada tunjangan lain, sama saja Gaji kami dengan pegawai lain, belum kalo ada hari libur panjanng dan libur nasional yang berdekatan, kami tak pernah meninggalkan kewajiban " Setelah dijawab seperti itu tak ada tindak lanjut dan seolah tak pernah diperhatikan, yang diawasi hanya sekedar keuangan padahal dampak yang sangat besar terhadap berbagai hal kegiatan. Tutup matakah atau tak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Keadaan ini dikarenakan ketidak mapuan pengelolaan majemen yang tak pernah dievaluasi dan tak pernah di tindak lanjuti. Seharusnya para pengusa bukan hanya sekedar melihat terjadinya penyimpangan, melainkan lebih mengarah kepada "proses" bagaimana terjadi penyimpangan, dan apa yang menjadi sebab terjadinya penyimpangan.
Sampai saat ini bila ada pembinaaan atau pengawasan,hanya dijadikan sebagai objek tidak dilibatkan sebagai subjek untuk mengarah kearah yang lebih baik. "pembinaan dan pengawasan" seharusnya lebih melihat bagaimana apa yang terjadi penyebab terjadinya masalah, kemudian duduk bareng untuk ditindak lanjuti dengan penyelesaian masalahnya. Bila dijadikan sebagai subjek, seolah dijadikan terdakwa dan apabila da pelanggaran maka diambil tindakan hukuman sesuai perundangan undanngan kepegawaian, lantas bagaimana hak haknya? bagaimana penghargaan atas semua dedikasinya? Keadilan bukan saja hanya ditingkat atas melainkan harus menyeluruh hingga tingkat bawah. Aku masih ingat salah seorang pejabat memanggilku dan mau mempromosikan, tapi aneh harus sedia kompensasi, owh jadi bener apa yang didengar itu terbukti bahwa sesuatu itu dilego dengan nilai materi. Bila saja semuanya seperti itu maka hancurlah sudah. Sindikat berjamaah yang terorganisir dan sejak itulah aku mengundurkan diri dari permainan kekuasaan. Lebih baik jadi prajurit dimedan tempur membela rakyat daripada harus berdiri tegak karena kekuasan yang dibeli .
Segera setelah mengetahui sistem yang da seperti itu aku mengundurkan diri dari link, apalagi keadaan ekonomi yang mengandalakn gaji takan pernah cukup membiayai mendingan dipakai modal usaha dan menyekolahkan anak anakku lebih tinggi dan alhamdulillah meskipun mengandalkan gaji yang kurang bisa menghidupi keluarga dari uang halal 2 anakku lulus sarjana. Harapan yang paling besar adalah mempunyai pim;pinan yang paham akan majemen yang tertata secara sistematis dan dinamis. Sitem adalah buatan manusia dan institusi takan pernah berkembang menjadi yang terbaik apabila di borgol hak perogratif pimpinannya. Sudah saatnya para pemimpin dareah mengkaji dan menganalisa setiap permasalahan yang ada diinstitusinya karena yakin orang orang pintar dan intelek jauh lebih banyak yang masih baik yang amanah terlebih sudah pada ikut jemaah haji. Jemaah haji bukan hanya sebagai riual ibadah pemenuhan rukun melainkan implementasi dalam dunia kehidupan. Bagi para pemimppin negeri alangkah indahnya bila penerapan disiplin paraturnya bukan mengarah kepada absen smata melainkan coba dirikan majlis dhuha dimasinng masing institusi agar penanaman moral dan kahlaq tercipta sehingga para pegawai jauh lebih paham tentang tugas dan kewajibannya. tak perlu ada hukuman yang berat, melainkan hukuman dari alloh atas ketidak disiplinannya. Hukum Alloh saja banyak yanng dilanggar, coba perhatikan berap orang yang suka hasir di mushola untuk sholat dhuha? Berap orang yang suka hadir di mesjid saat dzuhur ? ambil saja sample dari 50 karywan palinng hanya 1-2 orang yang taat akan ajakan dan seruan Alloh, lantas bagaimana dengan seruan dan kebijakan manusia? Jangan harap bisa sepenuhnya memahami.
Aku rindukan pemimpin yang benar benar islami bukan hanya sekedar begelar "H" didepannya tetapi saat ada seruan Alloh malah makan siang. Aku rindukan seorang pemimpin yang bukan saja bekerja sesuai sistem yang ada melainkan AL-Quran sebagai panduan dan bisa bertindak adil dan bijaksana. Aku rindukan seorang pemimpin yang banyak gelarnya tapi lebih tawadho dengan ilmunya, karena yang Maha pintar hanyalah Alloh "aza wazalla. Kepintaran manusia terkadang berpakain pakaian Alloh, sombong dan takabur dengan banyak gelar berjejer lupa siap yang Maha Tahu dan merasa paling AKU yang mampu tanpa mengindahkan suara yang kecil prajurit yang dibawah. Dengan puasa sebulan penuh ini semoga menjadi barokah dan latihan bagi kita bahwa kita adalah sama sama makhluq Alloh yang Hina yang hanya bertekuk lutut pada sang Pencipta. Puasanya rakyat, puasanya pemimpin, baik kepala institusi, Bupati, Gubernur, bahkan presiden sama puasanya tak ada perbedaan. Yang menjadi perbedaan adalah peran yang diberikan oleh Alloh pada Masing masing.
Asatgfirulloha lii walakum,wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar