Kamis, 31 Juli 2014

Terlupakan

Setahun yang lalu saya bareng posko dengan bidan yang sama, seorang bidan "junior"dan tadi malam mengingatkan agi pada kejadian yang sama dengan jumlah yang melahirkan berturut turut, tahun lalu bersamanya 6 orang terjadi persalinan dalam semalam dengan tenaga bidan seorang dibantu saya dan yang lain dalam tindakan tindakan yang sekiranya bisa kami lakukan. Malam tadipun sama halnya kita bahumembahu bersama mengatasi tiap kesulitan dan yanng palinng merepotkan adalah dengan syarat "administrasi BJS ", sebagian waktu termakan habis oleh administrasi, urus kartu, poto kopi ditengah malam mana ada? Belum lagi kelengkapan dari pihak pasen bila tidak lengkap disebutnya "Menghambat" terkadang petugas dituduh macam macam sebagai penghambat. Sitem yang masih manual BELUM TERPIKIRKAN oleh Pemangku kebijakan, bagaimana situasi sebenarnya dilapangan dengan tenaga yang serba kekurangan tapi harus sempurna melayani.

Itu terjadi baru satu kasus yang datang, semenjak hari ke2 Posko banyak masyarakat yang berkunjung untuk berobat , Mereka tak tahu kasus itu adalah emergensi atau bukan yang penting KAMI SELALU ADA 24 JAM untuk melayani, ketika KEBIJAKAN karena Sistemnya "ini bukan kasus emergensi" tertolak, lalu
apa reaksi masyarakat ? " Bisakah sakit ditangguhkan?" Takan bisa bicara seperti itu pada Masyarakat. Sistem bolehlah begitu, sebagai pelayan masyarakat tetap harus melayani mereka dengan SEPENUH HATI ( teringat slogan salah satu bank ) Baik buruknya pelayanan Pemerintah, akarnya adalah darri tingkat bawah, Prajuritlah yang harus siap hadapi berbagai kemungkinan yang terjadi, Manakal kebaikan datang yanng harum dan wangi adalah institusi atau leader, sedangkan bila keburukan terjadi maka prajuritlah yang dianggap tak mampu jalani tugas dengan baik.

Seorang Leader harusnya mengkaji dan memahami, dimanapun leader harus mempunyai pandangan yang luas terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi. Kesalahan atau penyimpangan dari sistem hendaknya dikaji apa penyebab masalahnya, bukan dijadikan sebagai objek pemebanaran masalah. JIka saja semuanya selalu melihat penyimpangan dijadikan objek hukum, maka takan pernah selesai permasalahannya. Satu selesai dan besoknya terjadi lagi penyimpangan karena ketidak puasan dalam penerapan kebijakan sepihak.Terjadinya Penyimpangan ada dua hal menurut pengamatan penulis. Yang pertama adalah karena memang Oknumnya yang melanggar karena Indispliner, dan yang kedua karena Sistemnya tak mampu lagi diterapkan pada keadaan sekarang.  Coba lihat dan telaah berbagai Perusahaan swasta yang selalu melakukan inovasi bagi pertumbuhan perushaannya. Swasta mempunyai Brand yang ratinngnya bagus dalam dunia marketing bersaing dengan swasta yang lainya bersaing secara sehat, dengan berbagai reward yang diberikan oleh perusahaannya baik pada Karyawan ataupun pada pengguna atai user. 

Tingkatkan kwalitas Pelayanan !!! Tegur, Sapa Senyum !!! kata kata itu selalu identik disampaikan pada semua jajaran karyawannya, Tapi pernahkah memperhatikan Kesejahteraan karyawannya? Sampai dimana tingkat kesejahteraan karyawannya?  Baju dinas saja sekarang harus berganti tiap Hari, Pernahkah dibelikan dan disediakan? Lho kan ada Tunjangan, tunjangan kan cukup ! emang benar ada tunjangan walau terkadang telat jumlahnya habis dipakai kebutuhan rumah Tangga, Lho koq ngeluh ! Mobil atau kendaraan yang baru akan melaju dengan baik bila keluar dari showroomnya dibekali oleh fasilitas. Apasaja? Ya bensinya harus diisi cukup, yang mengemudinya harus trampil dan punya SIM. Kalau mobilnya bnrand ternama harganya ratusan juta, tentunya bahan bakarnya harus premiks, yang mengemudinya jangan sembarangan.  Biar mobil itu terawat dengan baik dan nyaman, lho wong harus dipelihara dengan baik juga agar tidak mogok kelak disaat usianya mulai lewati Brand seklasnya. Lajunya mobil akan berasa nyaman bila semua kebutuhan komponen bisa sempurna dan selalu melalui pemeliharaan secara berkala pada bengkel yang kompatable sesuai brandnya.  Itu Mobil lho, Lantas Bagaimana dengan Manusia ? Manusia mempunyai otak dan kemampuan berfikir serta nafsu bisa dikendalikan bila semuanya berjalan sesuai dengan kodratnya terpenuhi. Prajurit dilapangan bukan Ojeg, tiap saat dipakai nyari duit tapi tak pernah diperhatikan keadaan mesinnya, Ojeg itu bisa berdua, bertiga dan penuh dengan barang tak peduli kekuatan mesinnya mapu tidak menahan? yang penting, muatan harus diangkut. dan yang terjadi speda motornya ambruk sebelum waktunya. 

Dunia marketing pelayanan pada masayarakat harus lebih mumpuni agar masyarakat merasakan pelayanan aparaturnya lebih baik.Penulis sering dengar dari masyarakkat walau itu tidak punya data yanng valid tapi setidaknya sebagai tenaga lapangan yang sering menjelajahi pelosok desa "krusukan" (lagi musim para pemimpin turun ) coba denger pendapat mereka " wios mayar abdi mah daripada gratis tapi sok kakurangan wae, komo eta mun bari jeung judes "  ( biar membayar, daripada pelyanan tak memuaskan apalagi bila pelayanananya cemeberut). Disni siapa yang salah, kita tak pernah tahu tapi setidaknya jika PERENCANAAN dilakukan dengan baik dan PEANGGRANNYA sesuai dengan perencanaan didukung oleh PEMIMPIN yang cakap penulis rasakan pelayanan pada masayarakat akan sesuai apa yang diharapkan. Wallohu 'alam bishowab. Renungan untuk smua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar