Assalammu'alaikum wr. wb.
Bila melihat masa lalu duapuluh delapan tahun kebelakang dengan rata rata tingkat pendidikan SMA bahkan SMP sederajat mempunyai kinerja yang sangat baik dan dapat melahirkan berbagai prestasi yang sangat baik. Aku masih ingat saat pertama kali pada tahun 1985 mulai masuk institusi, bahwa dengan lulusan SLA/sederajat saat it saat itu dipandang kedua tertinggi setelah lulusan Strata 1, masih ingat ucapan seorang pimpinan " Masa Kalah dengan yang lulusan SR dengan prestasi yang baik " Kata kata itu tertanam dan menjadikan diriku bangkit untukbisa berprestasi walau saat itu aku belum menjadi Aparat pemerintah ( Sukwan murni tanpa Gaji sepeserpun )
Bila melihat masa lalu duapuluh delapan tahun kebelakang dengan rata rata tingkat pendidikan SMA bahkan SMP sederajat mempunyai kinerja yang sangat baik dan dapat melahirkan berbagai prestasi yang sangat baik. Aku masih ingat saat pertama kali pada tahun 1985 mulai masuk institusi, bahwa dengan lulusan SLA/sederajat saat it saat itu dipandang kedua tertinggi setelah lulusan Strata 1, masih ingat ucapan seorang pimpinan " Masa Kalah dengan yang lulusan SR dengan prestasi yang baik " Kata kata itu tertanam dan menjadikan diriku bangkit untukbisa berprestasi walau saat itu aku belum menjadi Aparat pemerintah ( Sukwan murni tanpa Gaji sepeserpun )
Saat itu aku ditugaskan terpencil ditengah desa tanpa llistrik dan air berada ditengah hutan bambu, tengok kanan kiri hanya barisan pohon bambu sedangkan dibelakang adalah makam yang sudah lama tak pernah dirawat. Di berikan tugas oleh pimpinan saat itu bertanggung jawab membina 1 wilayah dengan jumlah desa 6 buah dengan medan yang cukup lumayan jauh dan ojeg yang ada hanya beberapa kalopun mau pake ojeg biasanya 2 jam sekali itupun sudah terisi, sedangkan mobil dolak ( pengangkut barang ) biasanya cuma 1 jalur tidak bisa sampai ke peloosok karena minimnya fasilitas.
Memang benar seh, aku hanyalah seorang lulusan SLA saat itu berartui tugasku hanya sebagai fungsional bukan manajer, "tau apa kamu" mungkin kata itu diucapkan sebagai seorang manajer saat ini yang rata rata berpendidikian S1 atau S Banyak, Tapi apakah menjamin? Disinilah aku menjadi latar belakang penulisan karena Pendidikan yang tingngi belum tentu bisa melahirkan seorang manajer yang handal yang hanya mampu secara teoritis dibelakang meja karena ilmu yang didapat berdasarkan analisa data tanpa langsung ke paling bawah bagaimana data itu diolah. Beberapa kali generasi pimpinan ( 7 kali ) mengajarkan pengalaman yang berbeda dimana Pimpinan yang berasal dari tingkat bawah dengan kinerja yang handal akan melahirkan seorang manajer yang handal juga melahirkan staf yang profesional.. Tapi lain halnya seorang manajer yang ditunjuk karena "kepentingan " tanpa kecakapan dalam hal me-manaje suatu organisasi akan membawa kehancuran terlebih tak mengenali organisasinya.
Seingatku dulu saat masuk dunia kerja dimana saat itu sebagai sukwan murni, aku dibekali dengan berbagai kecakapan Kepemimpinan dalam berorganisasi dan sering pelatihan pelatihan fungsional, singkat kata aku saat itu adalah seorang manajer juga seorang funngsional dalam satu organisasi tanpa kaki. Bekal pengalaman saat itu usiaku 18 tahun Harus mampu mengelola suatu organisasi yang serba terbatas fasilitas. Namun melalui 3 Komponen bisa meraih apa yang diharapkan dalam berorganisasi. 3 komponen itu adalah :
1. Planning atau sudah barang tentu bukan hal yang baru yaitu adalah Perncanaan
2. Stafing, Bagaimana peleolaan dari hasil perencanaan tersebut
3. Adalah Butgeting atau pendanaan untuk bisa membantu terwujudnya suatu tujuan akhir dari organisasi.
Aku sendiri takan mebahas 3 komponen tersebuit secara mendetail melain sekedar berbagi pengalaman dan kuetrapkan dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam dunia peerjaan.
Bila pimpinan tak memahami itu semua jangan harap bisa mencapai tujuan dari orgnisasi, dan beberpa pengalaman pimpinan yang dulu kuanggap "keras" tapi membawa pelajaran yang sangat berharga. Lantas bagaimana sekarang bisa kah diterapkan? Hal ini tentunya tergantung dari kebijakan dan perkembangan jaman. Saat itu aku merasakan bagaimana sistem berjalan terbagi menjadi 2 ada Top down dan Bottom up.
Pada saat awal menjalan Top down dimana kebijakan dari pusat sudah jelas dengan anggaran yang ada harus mampu mengimpelemntasikanya ditingkat bawah dalam mencapai tujuan ( output) dan tentunya hal ini harus disesuaikan dengan penilai hasil kegiatan selama setahun sebagai dasar penetapan anggaran. Sedangkan bottom up, merupakan ajuan dari tingkat bawah untuk menentukan anggaran pembiayaan organisasi, meski tidak sesuai apa yang diharapkan setidaknya mampu meningkatkan kinerja karena terukur dalam bentuk hasil akhir ( stratifikasi )
Aku terkesan apa yang diajarkan oleh seorang Pimpinan, kalau boleh disebut adalah Drg. Sapti S.W. MARS, bagaimana beliau membuat suatu pengelolaan organisasi yang disusun secara sistematis dan berawal dari "diri sendiri" hingga akhirnya mengantarkan aku menjadi seorang yang sistematis juga walau tanpa pendidikan formal tapi dapat mengantarkan beberapa program menjadi yang terbaik. Beliau sangat menghargai yang namanya "kinerja" dan jelas ada "nilai" nya , setiap ide yang ada dibayar dengan mahal sehingga mendorong untuk terus untuk lebih baik. Persaingan yang sehat dalam organisasi adalah suatu hal yang baik dengan tidak menjatuhkan yang lain akan tetapi mempunayi dampak yang besar terhadap out dari suatu tujuan organisasi. Namun sayang kepemimpinan beliau tak berjalan lama karena "sistem" yanng mungkin ada "kepentingan " para pemandu kebijakan ( silahkan tafsirkan sendiri bagaiman politik bisa berpengaruh pada institusi ) Banyak perubahan yang mendasar baik dari perubahan fisik bangunan yang tadinya kumuh menjadi bersih dan rapih, dan program serta pencapaian kegiatan yang sangat mencolok memenuhi target yang ditentukan.
Pada saat ini kegiatan sering dipengaruhi oleh sistem yang baku tak bisa diubah karena para pembuatnya sendiri belum mengetahui kedaaan yang sebenarnya di tingkat bawah. Wajar bila terjadi banyak pelanggaran karena sistemnya sendiri tak dapat menyesuaikan ditingkat bawah. Terkadang pembagian alokasi dana tak sesuai dengan apa yang diharapkan, mengapa?. Menurut pengamatanku selama ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja :
1. Lemahnya pengelolaaan organisasi yang menyangkut 3 komponen diatas.Pengangkatan pimppinan hanya sebatas tingginya golongan, bukan berdasar pada kemampuan pengelolaan dan tidak teruji. Bahkan lebih kearah "kepentingan "sesuatu golongan atau kekuasan penguasa.
2. Dukungan ketrampilan pegawai yang tidak dibekali oleh pendidikan yang mendasar atas jabatan fungsional yang di embannya. Tidak ada pendidikan dan pelatihan terlebih dahulu kalaupun ada sangat terbatas pada jam diklat. Pada saat dahulu sistim sentralisasi, minimal pelatihan 7hari ( 96 jam ) hingga 4 minggu . Wajar bila pegawai baru bingung apa yanng hendak dikerjakan akan tugas fungsionalnya dan tidak memiliki dedikasi karena indikatornya adalah materi.
3. Ketidak adilan para penentu kebijakan, yang kerja bener dengan yang sering malas malasan tetap saja sama mendapatkan gaji yang sama pula. Reward and Punishmennya tak berjalan. Sekarang diberlakukan absen sidik jari, menurutku tetap tidak efektif, mengapa? Karena absen sisik jari hanya bukti pisik dari kehadiran lantas bagaiman ditengah tengahnya? bagaimana dengan output nya? Out put disini adalah hasil yang dikerjakan oleh pegawai tersebut apakah sesuai target yang ditentukan atau hanya sekedar hadir saja. Penumpukan pemegang kegiatan pada sesorang yang sering dialami oleh rekan rekan ditiap wilayah mempunyai dampak yang buruk karena tidak efektif, hal ini dipengaruhi oleh para pemeganng kebijakan ditingkat bawah yanng merasa khawatir tak mampu dipegang oleh yang lain atas dasar keadilan. Jika saja para Pimpinan ditingkat bawah dapat menrapkan komponen tadi maka menurut pendapatku semua prgram akan sesuai dengan target yang diharapkan.
Pertanyaannya adalah. Mampukah meningkatkan kinerja ditengah ketidakpastian dan ketidaknyamanan dalam organisasi? sesuatu yang harus dijadikan sebagai bahan pemikiran oleh para penguasa dan merubah suatu "kebiasaan" diawali dari "hati". Pemimpin yang amanah akan melihat hatinya bukan hanya sekedar melihat dunia sekeliling. Hati adalah merupakan Nur Muhammad, Nur Muhammad adalah Nur illahi. Nur Illahi pada Kodratnya adalah baik, Baik adalah fitrah manusia ketika lahir kebumi tanpa apa apa, telanjang bulat tanpa pakaian yanga menutupi, dan nanti pulangpun takan membawa apa apa. Masih untung dibungkus kain kapan putih karena mati nya diketahui oleh orang lain atau keluarga. Lantas bagaimana jika matinya tak diketahui oleh siapapun? hanyalah Bangkai yang tak berati apa apa atau bahkan mungkin dimakan binatang atau belatung. Wahai para pemimpin, mulailah pada saat ini menjalankan amanah bukan hanya sekedar mementingkan kepentingan pribadi atau dunia semata. Ingatlah bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah setelah mati.
Wallohu 'alam bishowab. Wassalammu'alaikum wr. wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar