Selasa, 12 Agustus 2014

Sikapi dengan Bijak Bank Kapitalis

Pengalaman kali ini berawal dari ditahun 2013,saat usahaku hancur krn ditipu dan menjadi kolaps.pada bulan desember tahun itu adalah tinggal jaminan sebuah rumah yang akan di eksekusi karena smua yang kupunya sudah terjual untuk membayar sisa sisa peninggalan piutang. Sertipikat yang masih tertinggal di bank ku coba untuk take over, namun katanya ga bisa jadi harus lunasi dulu sisa tunggakan. Hanya sisa 1 bank yang kutunggak saat itu, beberapa bank yanglain sudah mulai kututup walau dengan menjual barang yang sekiranya bisa dijual. Usaha dengan berpasrah kepada sang pencipta sudah kulakukan namun Alloh belum berikan jalan yang terbaik, jadi menunggu kemurah hatian Alloh.

Bulan Desember ku coba untuk bernego dengan pihak Bank dan ditolak dengan alasan SID bahwa aku termasuk Blcaklist, dan dari situ aku mulai mengalami  masalah perbankan hingga mencari web BI tentang permasalahan yang ada. Disamping itu aku surfing diberbagai forum tentang nasib yang sama alasan karena SID bermasalah karena menunggak. Konsultasi dengan pihak konsultan Bank di Jakarta hasilnya tetap sama selalu memihak pada Bank dan tidak memberikan solusi dari permasalahan yang ada. Tiap tiap Bank ku berusaha untuk masukan dengan jaminan sertifikat dan tempat tinggal, alasannya sama bahwa "black list"
Semua pihak bank selalu bilang " maaf Bapak belum saatnya " dari semua itu aku selalu ingin thu jawaban dari setiap permasalahan yang ada, Bila ada MASALAH pasti ada SOLUSINYA.


Akhirnya aku bisa bertemu dengan salah satu direktur Bank ternama dan terbesar, bisa diskusi dengan beliau tentang apa yang sebenarnya disebut "kredit bermasalah". disitulah kesempatan untuk beradu argument dan bertukar pikiran. Dari hasil surfing awal aku mencari tahu kewajiban bank untuk mengupdate data nasabahnya ke BI setiap bulan, seharusnya setelah lunas di bulan Desember data dri BI sudah tak ada lagi, tetapi kenapa dataku masih tersimpan di BI sehingga namaku belum clear. Jawaban yang muncul adalah ketika pihak bank masih ada yang nakal, dimana pihak bank bisa saja mempertahankan jumlah nasabahnya dan bisa jadi ditinggalkan Rp. 1,- saja bahwa itupun bisa tertunggak. Ironisnya, saat feedback dari kartu kredit ternyata aku sudah clear. terlepas dari itu berarti pihak bank itu emang masih mempertahankan jumlah nasabahnya, atau pihak bank tidak mengupdate data nasabahnya ke BI secara periodik ( sebulan sekali ) sehingga data di BI bahwa nasabah itu masih tetap "bermasalah"

Keaadaan ini bisa merugikan rakyat kecil seperti aku, lantas bagaimana masyarakat yang emang tidak pernah tahu tentang perbankan? pastinya ya terima saja itu kenyataan yang harus ditelan. Kredit bermasalah dikatakan bermasalah bila emang belum melunasi tunggakannya.Nah kalo sudah melunasi, apakah masih tetap menjadi masalah? Seharusnya tidak.tapi pihak bank selalu melihat dari kacamata perbankan dengan riwayat kredit nasabahnya tanpa pernah mencari tahu penyebabnya. Seharusnya Pihak bank mellihat "pendalaman" apa yangn menjadi penyebab bermasalahnya. Dalam dunia usaha pasti ada naik turunnya atau ada untung dan ruginya. Pihak bank seharusnya melihat dari berbagai segi,apakah emang "karakter"nya bahwa nasabah ini emang tidak mau bayar atau "usaha"nya yang sedang kolaps? Bukan cuma melihat luarnya saja berdasarkan data SID data BI menurut saya tidak adil, karena itu sistem sedangkan kenyataan dilapangan perlu pendalaman.

Saya berani mengajukan kredit ulang mengambil KUR karena saya pernah surfing salah satu Media ANTARA online, bahwa Bank tidak mellihat data SID nasabah untuk KUR, karena KUR diperuntukan untuk membangun ekonomi kecil tumbuh menjadi besar, Namun kenyataan dilapangan tak seindah yang terjadi, tetap saja bahwa pihak bank hanya membiayai yang benar benar menghasilkan dan punya riwayat perbankan baik. sedangkan menurut saya dalam dunia usaha terkadang dengan perhitungan yang baik dan sistematis dan terukur prospek yang baik, hancur seketika karena pengawasan yang disadari oleh diri sendiri kelemahan manajemen.Perusahaan yang telah berhasil menjadi besar rata rata diawali karena jatuh dan meninggalkan hutang, hanya itu keyakinan yang ada. Jatuh, adalah pembelajaran agar kita hati hati, dibalik jatuh ini adalah rahasia yang tersembunyi dari Alloh yang harus dicari tahu.

Dari semua permasalahan ini membuka mata hati untuk menyikapi secara qulb,dan lebih menggali lagi ilmu ilmu Alloh yang belum tersingkap. Kadang Alloh berikan keburukan agar mengetahui kebaikan, bagaimana bisa mengenal kebaikan jika tidak pernah belajar dari keburukan.Cerdas aqli hanyalah berlandaskan pada Nafs, sedangkan nafs selalu dikelbui oleh assyaiton. Terima kasih pada Alloh yang telah memberikan ujian yang bertubi tubi agar aku berfikir dan bertafaqur. Banyak ilmu kehidupan yang dapat dipelajari dari berbagai keadaan. Kemewahan terkadang lupa pada jati diri kita sendiri seolah kemewahan adalah hasil jerih payah kita sendiri, hasil keringat kita sendiri, tak berpikir bahwa disitulah tangan Alloh yang mengendalikan. Tapi manakala fuqoro ( miskin) baru menngenal Alloh.Masih untung bisa mengenal Alloh tidak jatuh menjadi Kufur dan memilih jalan yang sesat. barokallohu lii walakum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar